Angin Segar Meniup Dunia Farmasi di Indonesia

Jakarta, Mei 2014 – Berlakunya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mulai awal Januari 2014, membuat angin segar bagi peningkatan dunia farmasi di Indonesia. Melalui Jaminan kesehatan tersebut, sudah tentu belanja obat-obatan pemerintah akan bertambah mencapai 15 persen dibanding tahun sebelumnya. Demikian ditegaskan, Darodjatun Sanusi  seusai memberikan sambutan dalam Convention of Pharmaceutical Ingredients South East Asia (CPhl SEA) 2014 di Jakarta International Expo, Senin (20/5).
“Belanja kesehatan pemerintah di tahun 2013 mencapai 2 persen dari jumlah anggaran APBN. Anggaran kesehatan tersebut diharapkan meningkat dua kali lipat setelah JKN berjalan dengan lancar. Dengan begitu anggaran yang dikeluarkan pemerintah bisa mencapai 5 persen dari jumlah APBN,”jelas Darodjatun dengan semangat.
Darodjatun melanjutkan, dalam masa transisi  program sebelumnya menjadi JKN sudah tentu harapan pemerintah ingin memenuhi kebutuhan masyarakat di Indonesia terutama dalam segi kesehatan. Guna memenuhi semua itu, tentunya obat-obatan yang dibutuhkan otomatis meningkat. Kondisi seperti itu memberikan suasana yang menarik bagi dunia farmasi di Indonesia.
Bila JKN sudah berjalan sesuai harapan masyarakat dan pemerintah, maka kebutuhan obat-obatan akan terpenuhi. Begitu juga dalam segi pelayanan kesehatan baik yang dilakukan tim medis maupun dokter nantinya. Peningkatan kesehatan seperti itu katanya, diprediksikan dana yang dikeluarkan pemerintah bisa menjadi tiga kali lipat. 
Peningkatan dunia farmasi seperti itu dapat  dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh investor yang bergerak dalam obat-obatan dan dunia kesehatan. Kendati begitu, ia tetap berharap investor asing yang mengimpor obat-obatan ke Indonesia tidak hanya mencari keuntungan saja. Namun tentunya menularkan ilmu, terutama dalam segi pengadaan bahan baku.
Pengadaan bahan baku dalam segi obat-obatan sangat penting artinya dalam menekan pengeluaran dana pemerintah. Melalui bahan baku yang ada di Indonesia bisa diolah menjadi obat-obatan yang dibutuhkan masyarakat di Tanah Air. Kondisi seperti itu pernah dilakukan Indonesia pada tahun-tahun sebelumnya. Namun karena minimnya industri farmasi, maka akhirnya Indonesia mengimpor kembali bahan baku tersebut.
Darodjatun berharap, besarnya kebutuhan farmasi setelah JKN berjalan lancar hendaknya  pemerintah memberikan kelunakan perijinan masuknya obat-obatan ke Indonesia. Begitu juga dengan ijin mendirikan industri farmasi di Tanah Air.  Melalui dua unsur yang saling energik itu, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat di Tanah Air, terutama dalam segi obat-obatan dan pelayanan kesehatan.
 
(warso)       
 
Foto: Herlambang
 
foto Herlambang
 
foto Herlambang