CSR Actavis Indonesia, BNN, RSKO dan Yayasan Puteri Indonesia

Jakarta - PT. Actavis Indonesia sebagai perusahaan farmasi global yang terintegrasi, berfokus kepada pengembangan, pembuatan, dan pendistribusian produk obat-obatan generik. Actavis Indonesia memiliki komitmen penuh untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Indonesia.  
 
Salah satu bentuk kepedulian diwujudkan dalam kolaborasi antara Actavis Indonesia, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai penyalahgunaan narkoba. BNN (2015) mencatat bahwa kerugian biaya ekonomi dan sosial (eksos) akibat penyalahgunaan narkoba akan meningkat pada tahun 2020.
 
Jumlah korban penyalahguna narkoba di Indonesia mencapai 4,1 juta penduduk atau sebesar 2,25% dari total seluruh penduduk Indonesia. Terdapat tiga skenario terhadap proyeksi perhitungan penyalahguna narkoba, yaitu skenario naik, skenario stabil, dan skenario turun. Berdasarkan skenario naik, jumlah penyalahguna narkoba pada tahun 2020 diperkirakan meningkat hingga lima juta orang. Apabila berdasarkan skenario turun, jumlah penyalahguna narkoba diproyeksikan berkurang menjad 3,7 juta orang.
 
Data yang sama menunjukkan korban penyalahguna coba pakai memiliki proporsi terbesar, terutama dari kelompok pelajar dan mahasiswa. Sementara itu, kontribusi jumlah korban penyalahguna terbesar berasal dari kelompok kerja, disebabkan kemampuan finansial dan tekanan kerja yang besar sehingga tingkat stress tinggi.
 
Selain berpotensi menularkan penyakit, jumlah kematian akibat narkoba turut diprediksi akan meningkat. Data jurnal BNN mencatat terdapat 2,8% angka kematian pada tahun 2015 yang disebabkan penyalahgunaan narkoba. Angka kematian sebanyak 104.000 jiwa tercatat terjadi pada usia 15 tahun.
 
Kasubdit Pendidikan Masyarakat BNN,  Drs. Dik Dik Kusnadi, “Penyalahguna narkoba hanya berakhir di tiga tempat, yakni rumah sakit, penjara dan kuburan,” 
“Kami juga ingin mengingatkan, penyebaran HIV/AIDS tertinggi adalah melalui penggunaan jarum suntik. Sehingga bagi generasi muda, hindari dan tolak narkoba jenis apapun, melalui cara apa saja.” tegas Drs. Dik Dik Kusnadi
 
Biaya kerugian eksos diperlukan sebagai dasar perhitungan estimasi pengeluaran pemerintah dalam menangani penyalahgunaan narkoba. Biaya kerugian eksos akibat penyalahgunaan narkoba diperkirakan mengalami peningkatan dari Rp 63,1 triliun menjadi Rp 143,8 triliun pada tahun 2020. Sebesar Rp 56,1 triliun merupakan biaya kerugian yang dikeluarkan secara pribadi dan Rp 6,9 triliun merupakan kerugian biaya sosial. Sebanyak 76% pengeluaran pribadi digunakan untuk konsumsi narkoba. Sedangkan pada biaya sosial, sebanyak 78% pengeluaran digunakan untuk menutupi kerugian akibat kematian karena narkoba.  
 
Menurut dr. Mona Tri Rizky dari Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur, “Efek penggunaan narkoba bersifat sangat merusak. Penyalahgunaan narkoba menyebabkan kerusakan vena, pembuluh darah balik, komplikasi paru, abses, bahkan penyakit hati. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan ketergantungan narkoba. Hanya motivasi diri untuk mau berhenti berubah yang menjadi kunci kesembuhan,”.
 
Dalam rangka meningkatkan kesadaran terkait penyalahgunaan narkoba, BNN turut memperkenalkan tujuh langkah pencegahan penyalahgunaan narkoba.
 
Tujuh langkah tersebut antara lain melalui:
1. Penanaman hidup sehat anak usia dini
2. Pemahaman akan adanya racun di sekeliling kita
3. Memberikan informasi yang akurat dan jelas
4. Menggalakkan kerja sama dengan instansi pendidikan (sekolah atau universitas)
5. Tanggap lingkungan
6. Melakukan kerja sama dengan organisasi di lingkungan rumah
7. Membangun hubungan interpersonal yang baik
 
Dalam membangun kesadaran yang lebih mendalam, Yayasan Puteri Indonesia turut mendorong semangat anak muda dan remaja untuk berpartisipasi dalam program Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Gerakan ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk menjadikan gaya hidup sehat dan bebas narkoba sebagai sebuah tren. “Remaja dan anak muda merupakan generasi yang akan menciptakan perubahan untuk dunia yang lebih baik. Itu merupakan alasan bahwa kehidupan yang sehat, kreatif, dan berprestasi sangatlah penting,” ucap Puteri Indonesia Pariwisata 2016, Intan Aletrino.
 
Pencegahan penyalahgunaan narkoba juga merupakan kewajiban dari berbagai pemangku kepentingan. Untuk menciptakan kualitas kesehatan masyarakat yang lebih baik, kerja sama antara swasta dan pemerintah (public-private partnerships, PPP) merupakan salah satu solusi. 
 
“Sebagai wujud komitmen Actavis Indonesia kepada masyarakat, kami bersama BNN dan RSKO mengadakan edukasi bagi masyarakat dan rekan media guna mendukung BNN dan RSKO dalam meningkatkan kesadaran pentingnya pencegahan penyalahgunaan narkoba sejak dini. Besar harapan kami melalui kegiatan ini, kami dapat berkontribusi meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya hidup sehat, serta jauh dari konsumsi narkoba yang menyimpang. Selain itu, kami juga turut mengadakan sesi konsultasi dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat yang berdomisili di sekitar perusahaan kami,” ujar Presiden Direktur PT Actavis Indonesia, Parulian Simandjuntak, menutup sesi temu media.