Herbal, Trend Kesehatan Saat Ini

altBeberapa tahun yang lalu, dunia pengobatan alternatif di Indonesia kurang mendapatkan tempat. Pengobatan tradisional dianggap sebagai alternatif pengobatan kelas bawah. Tidak banyak kelas menengah ke atas di Indonesia yang percaya. Ini juga tidak lepas dari bagaimana proses pengobatan yang berkembang di masyarakat saat itu.

Namun sekarang pemikiran tersebut sudah bergeser. Indikasinya dapat kita lihat di televisi. Sebuah klinik kesehatan alternatif menggunakan obat herbal gencar melakukan promosi di internet. Bahkan dengan durasi yang sangat panjang dan berkali-kali. Bisa kita bayangkan berapa biaya yang mereka keluarkan untuk promosi iklan di televisi tersebut.

Suatu saat ada teman yang datang ke rumah bercerita kalau mertuanya habis berobat ke pengobatan alternatif yang terkenal karena iklannya tersebut. Dia cerita biaya pengobatannya tidak sedikit. Jauh di atas perkiraan sebagaimana layaknya image pengobatan tradisional. Sudah gitu, antrinya juga lumayan. Dalam sehari banyak sekali pasien yang antri. Ini adalah indikasi bahwa pengobatan tradisional sudah mulai mendapatkan tempat di Indonesia.

Yang perlu diketahui oleh masyarakat kita adalah tidak semua obat tradisional melekat dengan pembuatannya yang ala kadarnya atau rumahan. Kita tengok terlebih dulu apa definisi dari pemerintah.

Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia no.HK.00.05.41.1384, Obat Bahan Alam (OBA) a.k.a Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman
Obat herbal yang mungkin dalam bayangan masyarakat pada umumnya disebut dengan jamu. Ini adalah tingkatan paling bawah dari obat herbal. Jamu banyak dibuat oleh peracik jamu rumahan. Meskipun demikian juga banyak jamu yang diproduksi secara industri.

Jamu bisa diartikan sebagai  obat tradisional yang disediakan secara tradisional, tersedia dalam bentuk seduhan, pil maupun larutan. Pada umumnya, jamu dibuat berdasarkan resep turun temurun. Meskipun demikian, jamu harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu:

Aman
Klaim khasiat berdasarkan data empiris (pengalaman)
Memenuhi persyaratan mutu yang berlaku
Tingkatan berikutnya adalah OBAT HERBAL TERSTANDAR. Istilah ini mungkin asing di telinga masyarakat. OBAT Herbal Terstandar (OHT) adalah obat tradisional yang berasal dari ekstrak bahan tumbuhan, hewan maupun mineral. Nah, di sini ada proses uji pra-klinik untuk pembuktian ilmiah mengenai standar kandungan bahan yang berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman obat, standar pembuatan obat yang higienis dan uji toksisitas akut maupun kronis. Sedangkan proses pembuatannya, OHT memerlukan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal serta memerlukan tenaga kerja dengan pengetahuan dan keterampilan pembuatan ekstrak dari pada pembuatan jamu.

Nah, jenjang paling tinggi adalah FITOFARMAKA. fitofarmaka juga bisa diartikan sebagai sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinis dan uji klinis bahan baku serta produk jadinya telah di standarisir (Badan POM. RI., 2004 ). Jadi ada proses yang lebih komplek lagi sebelum produk herbal tersebut diluncurkan. Ada proses-proses klinis yang harus dilalui. Dan ini jauh lebih komplek dari pada obat herbal terstandar.

Nah, pilihan ada di tangan masyarakat. Namun dengan adanya pendefinisian lebih detil lagi terhadap obat tradisional, masyarakat tidak ragu-ragu lagi untuk mempertimbangkan pilihannya. Ini juga upaya dari semua pihak untuk kembali ke alam.

Semoga artikel ini dapat memberi wawasan kepada kita semua bahwa jangan ragu-ragu untuk kembali ke obat herbal. Kembali ke alam, rumah kita.. (kompasiana)