INDAHNYA BERSAHABAT DENGAN ALAM

“Sekarang ini panas sekali, tidak seperti dulu, hujannya juga tidak menentu. Harusnya sekarang sudah musim tanam, tetapi tidak hujan-hujan, pas masuk musim panen, justru banjir di mana-mana”.

Keluhan tersebut terlontar dari Mbah Suripah, seorang petani yang telah lanjut usia. Apa yang dikatakan Mbah Suripah ini ada benarnya. Kita pun pasti merasakan demikian. Dahulu, saat memasuki akhir tahun, yakni sekitar bulan September, Oktober, November, dan Desember, biasanya sudah masuk musim hujan. Semua kalangan—termasuk petani—bisa memprediksi cuaca, sehingga produksi dan panen tidak terganggu. Namun kini, pergantian cuaca sulit diprediksi. Penyebab perubahan iklim ini disinyalir terjadi karena adanya pemanasan global yang bersumber dari gas rumah kaca.

A. Bahaya Efek Rumah Kaca
Ada tiga faktor utama penyebab tingginya emisi gas rumah kaca, yakni kerusakan hutan dan lahan, penggunaan energi yang tidak ramah lingkungan, dan pembuangan limbah secara berlebihan. Hal tersebut bisa terjadi dari polusi dari gas buang transportasi, kepulan asap pabrik, pembakaran hutan, penumpukan dan pembakaran sampah, serta penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan, sehingga menyebabkan tersemburnya beragam jenis gas pencemar emisi GRK, diantaranya CO2, CH4 (metan) dan N2O (dinitrogen dioksida) dan lainnya. Dari sekian banyak macam gas pencemar tersebut, karbondioksida (CO2) ditengarai sebagai faktor dominan sebagai penyebab utama terjadinya pemanasan global.
Manusia merupakan faktor utama yang harus bertanggungjawab dalam meningkatnya jumlah karbondioksida yang dilepas ke atmosfer. Terutama saat mereka membakar bahan bakar fosil, sampah, limbah padat, dan kayu untuk menghangatkan tubuh, menggerakkan kendaraan, dan menghasilkan listrik. Pada saat yang sama, jumlah pepohonan yang mampu menyerap karbondioksida semakin berkurang, akibat perambahan hutan untuk diambil kayunya maupun untuk perluasan lahan pertanian.

Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi, hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Selain itu, dampak lain yang terjadi akibat perubahan iklim adalah beragam kejadian alam, seperti mencairnya gunung es di kutub yang menyebabkan meningginya volume air laut, sehingga menyebabkan pulau tenggelam dan abrasi besar-besaran. Belum lagi cuaca yang tidak menentu yang mengakibatkan sejumlah wilayah dilanda kekeringan, tetapi wilayah lain justru kerap dilanda hujan lebat yang disertai badai dahsyat, sehingga menyebabkan banjir besar, bahkan tsunami. Padahal, Tuhan telah memperingatkan kita mealui ayat-ayatNya agar selalu menjaga lingkungan dan tidak membuat kerusakan sekecil apa pun. Karena efeknya pasti akan mengubah alam dan segala proses kehidupan di dalamnya.

B. Apa yang Sebaiknya Kita Lakukan?
Kita ketahui bahwa, perubahan iklim global akan berdampak merugikan terhadap beberapa sektoral, seperti pertanian, ekonomi, sosial dan lingkungan (ekologi), dan kesehatan, sehingga kompleksitas masalah di lapangan semakin meningkat. Sesegera mungkin perubahan alam ini harus diatasi, caranya bisa dilakukan dengan adaptasi (penyesuaian) dan mitigasi (pencegahan).
Pada skala mini namun berefek sangat luas, mitigasi yang bisa dilakukan adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, baik organik maupun anorganik, serta bagaimana pengelolaannya yang baik dan bijak. Pasalnya, hampir sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa sampah itu kotor, bau, tidak ada nilainya, sehingga wajib untuk dibuang di mana saja atau dibakar.  Kita bisa berpegang teguh dalam prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Reduce = Mengurangi penggunaan maupun volumenya sebelum dibuang.
Reuse = Menggunakan kembali barang bekas semaksimal mungkin sebelum dibuang.
Recycle = Memanfaatkan sampah agar berguna untuk keperluan lain.


Mengelola sampah organik dan menjadikannya sebagai kompos merupakan salah satu bentuk dari recycle, sehingga dengan mengolah sampah menjadi kompos, atau benda-benda lain yang berguna, berarti ikut membantu mengurangi permasalahan yang disebabkan sampah dalam kaitannya sebagai penyebab timbulnya gas rumah kaca. Sementara itu, sampah anorganik juga bisa dikreasikan menjadi berbagai pernak-pernik menarik dan berubah fungsi menjadi barang berharga, ataupun diubah kembali menjadi bahan baku dengan usaha yang tidak terlalu complicated, misalnya merubah menjadi granul plastik atau bahan bakar sederhana. Dengan demikian, sampah yang tadinya tidak berguna, dengan sedikit pengolahan dan kreativitas, bisa menjadi barang yang bernilai guna dan bernilai jual, bahkan bisa menghasilkan uang. Untuk itu, persepsi dan pola pikir yang harus diubah masyarakat tentang sampah harus diubah. Sampah pun bisa barang berguna, sehingga kita tidak tertinggal semakin jauh dari bangsa-bangsa tetangga dalam pelestarian lingkungan.

Berikut hal kecil yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan terjadinya gas-gas penyebab rumah kaca.
Gunakan ulang atau daur ulang perlengkapaan atau bahan yang telah digunakan.
Jangan membuang dan membakar sampah sembarangan.
Hindari menebang pohon,lakukan penghijauan secara kontinu.
Lakukan pengelolaan dan pemanfaatan sampah atau limbah dengan bijak.
Kurangi pemakain pupuk dan pestisida kimia, beralihkan ke penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati.

Budayakan hidup bersih dan sehat.
Tahukah kamu? Berapa lama sampah ini lapuk.
Kertas     : 2,5 bulan
Kardus    : 5 bulan
Kulit jeruk    : 6 bulan
Spon sabun : 25 tahun
Sepatu kulit : 40 tahun    Kain nilon     : 40 tahun
Plastik    : 80—200 tahun
Alumunium  : 500 tahun
Gabus/Styrofoam    :
Tidak dapat diurai

Selama belum lapuk, sampah ini akan mencemari lingkungan, air, dan udara.
Dengan mendaur ulang 50 kg limbah kertas sama artinya dengan sebatang pohon pinus berusia 20 tahun. Sementara itu, limbah plastik sangat serius untuk didaur ulang, karena masa hancurnya 80—200 tahun.
(artomo/akademi-kompos)