Industri Farmasi Indonesia Harus Pintar Menangkap Pasar

Kemampuan ekspor produk obat-obatan industri farmsi Indonesia hingga saat ini dinilai masih cukup kuat. Beberapa negara yang masih menjadi tujuan ekspor antara lain: negara-negara Asia, Afrika, dan Timur tengah. Dengan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada tahun depan,  Indonesia memiliki peluang untuk memperebutkan porsi pasar yang mencapai 40 persen di pasar ASEAN. 

Menurut Johannes Setijono, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI), indutsri farmasi dalam negeri memiliki ketahanan yang cukup kuat untuk bersaing dengan negara-negara Asean lainnya. Tapi kita harus lebih siap-siap karena Indonesia merupakan pasar yang terbesar di Asean. Sudah pasti dari luar negeri ingin sekali masuk ke Indonseia.
“Seharusnya  kita oke dalam menghadapi MEA. Kita tidak perlu khawatir,” ujarnya kepada wartawan usai acara pembukaan CPhI, di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, 8 April 2015. 
Johannes mengatakan, saat ini, industri farmasi dalam negeri (nasional) masih menguasai 70 persen pasar obat-obatan dalam negeri. Selebihnya, dikuasi oleh industri farmasi asing (PMA), baik yang diproduksi di Indonesia maupun yang diimpor.
Namun demikian, psikologi pasar internasional akan berbeda dengan pasar dalam negeri. Pasar internasional memiliki daya saing yang lebih ketat. Karena itu, Johannes meminta agar industri farmasi Indonesia siap-siap untuk bersaing di pasar dunia. Indonesia harus mampu meningkatkan volume ekspor produk obat-obatan. 
“Jangan sampai, Indonesia hanya jadi pasar bagi farmasi asing, tapi juga harus mampu mengekspor produk farmasi dalam negeri. Selama ini produk kita sudah aktif masuk ke Vietnam, Afrika, filipina dan beberapa negara Asean lainnya,” ujarnya.
 
Dua Prasyarat
 
Dalam roadmap yang telah disusun, GP farmasi Indonesia menargetkan pada tahun 2025, industri farmasi Indonesia diharapkan masuk dalam 15 besar industri dunia dengan pangsa pasar mencapai Rp 700 triliun. Untuk mencapai target ini, menurut Johannes, sangat tergantung dua hal.
Pertama, makro ekonomi Indonesia harus bisa tumbuh sesuai dengan asumsi yang ada di Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) pemerintah. Kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia memenuhi skenario pembangunan ini, dimana pada tahun 2025 GDP bisa mencapai US$ 4 triliun, menurut Johannes, maka industri farmasi diprediksikan akan bisa tumbuh sesuai harapan.        
Kedua, perusahaan-perusahaan farmasi yang ada di Indonesia harus mampu memanfaatkan pasar tersebut. Antara lain dengan transformasi industri, yakni bersedia investasi dalam Reseach and Development (R&D), investasi dalam bahan baku, dan investasi dalam produk alami. 
“Ini semua prasyarat dalam untuk pasar bisa tumbuh. Tapi kalau pasar nasionalnya tidak lebih baik, ya nggak bisa,” ujarnya. 
Untuk mendorong tercapainya target ini, GP Farmasi terus memasyarakatkan hal ini agar semua industri yakin punya kesempatan untuk mencapai target ini. (pmmcnews)