Industri farmasi yang sarat dengan regulasi dan teknologi

Anthony_okKompleksitas masalah yang dihadapi industri farmasi di Indonesia begitu complicated. Dari masalah impor bahan baku, proses produksi sampai masalah harga eceran tertinggi obat yang masih menjadi perdebatan di kalangan pengusaha dan regulator.

95 % bahan baku farmasi kita masih impor, yang berasal dari Cina dan India. Bahan baku yang volumenya besar dan harganya murah dimpor dari Cina dan dan yang kecil-kecil dan harganya mahal diimpor dari India.

Tuntutan akan peningkatan serta pengembangan science dan teknologi pada industri farmasi pun mendesak dilakukan untuk meningkatkan daya saing, mengingat perkembangan dunia farmasi yang begitu pesat.

Industri farmasi dituntut harus hi-tech. Produk obat-obatan harus benar-benar memenuhi persyaratan safety, efficacy dan quality. Ini berarti industri farmasi dalam negeri perlu menata diri agar penerapan teknologi modern yang memiliki standar internasional dapat diwujudkan.

"Industri farmasi yang sarat dengan regulasi dan teknologi dituntut perubahan yang harus cepat dan lebih terfokus," kata Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi), Anthony Ch. Sunarjo saat ditemui bee-health di kantornya.

Terus Berbenah

Anthony terpilih menjadi Ketua GP Farmasi selama dua periode, yakni tahun 2003 – 2007 dan 2007 – 2011. Selama dua periode menjabat, bapak dua anak ini terkenal konsisten memperjuangkan pembaharuan dan pembenahan sistem kesehatan Indonesia, termasuk pembenahan dalam industri farmasi domestik.

Dalam kesehariannya, ia memberi pandangan tentang pentingnya pembenahan dari hal sepele yang dimulai dari lingkungan sekitar. "Karena saya menganggap pembenahan akan membawa refeleksi kepada lingkungan. Ke manapun saya pergi dan berada, saya akan berusaha melakukan dan membawa pembenahan positif," jelas mantan anggota DPR dan Sekjen Perbakin ini.

Begitupun dengan Ketua Umum GP Farmasi yang dijabatnya sekarang. Setiap tahun ia membuat perubahan di GP Farmasi. Di luar agenda rutin tahunan, ia selalu membuat kegiatan-kegiatan baru dan sesuai dengan perkembangan tantangan jaman yang dihadapi.

Misalnya, Anthony merasa perlu mengaktifkan dan meningkatkan kesadaran anggota GP Farmasi agar memiliki persamaan visi dan persepsi. Alasannya, GP Farmasi yang dibentuk berdasarkan Kepmen No.222/Kab/BVII/69 terbentuk dari kemajemukan para anggotanya dengan kepentingan yang berbeda-beda.

Pembenahan yang mendesak dilakukan adalah persiapan menuju daya saing industri farmasi, baik dalam skala regional (AFTA) maupun internasional (APEC). Bersama para anggota GP Farmasi lainnya, Anthony terus melakukan konsolidasi organisasi dan memberikan masukan dan bimbingan, terutama kepada perusahaan-perusahaan farmasi kecil di daerah-daerah.

"Jika tidak dipersiapkan sejak dini, sulit bersaing dengan negara-negara lain, bahkan dengan industri farmasi Malaysia atau Singapura," kata Anthony serius, (bun)