Memacu daya saing perekonomian domestik

content_214_acfta_fotobersamaSerbuan produk China seiring pemberlakuan perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) memicu kekhawatiran sejumlah industri di dalam negeri. Beberapa sektor industri dinilai rawan terkena dampak perdagangan bebas itu.



Sektor-sektor itu adalah logam dengan kerawanan sebesar 70 persen, furnitur (61 persen), garmen (57 persen), kain grey (56 persen), dan mesin (45 persen).

Lantas, bagaimana sebaiknya pemerintah mengantisipasi serbuan produk China yang harganya lebih murah itu?

''Khusus Indonesia, nanti menteri-menteri di bidang ekonomi akan membahas sektor mana yang akan diunggulkan,'' kata Duta Besar/Perwakilan Tetap Indonesia untuk ASEAN, Ngurah Swajaya, di Jakarta.

Harga produk asal China, Swajaya menambahkan, memang lebih murah dibanding produk lokal. Kondisi itu membuat ACFTA sudah tidak kompetitif lagi, karena China memiliki cadangan devisa yang cukup besar.

"Murahnya itu apakah ada dumping atau tidak. Jika ada, pemerintah harus mengambil langkah-langkah seperti pengenaan tarif antidumping,'' ujarnya.

Untuk mengikuti perkembangan di ASEAN, dia menjelaskan, Indonesia harus memanfaatkan banyak hal guna mempercepat fase pertumbuhan ekonomi.

''Indonesia harus menstabilkan keamanan, sehingga menarik di mata negara ASEAN lainnya. Dengan ASEAN, (Indonesia) juga akan berperan untuk mengembangkan kawasan ekonomi," kata dia.

Sektor ekonomi harus didukung sektor keamanan, karena tanpa rasa aman, menurut dia, investor akan enggan untuk datang berinvestasi di Indonesia.

Target yang ingin dicapai ASEAN, Swajaya mengatakan, adalah bagaimana mewujudkan ASEAN sebagai pasar tunggal. Salah satunya dengan membentuk badan khusus.

"ASEAN juga akan menerapkan single visa untuk semua negara anggota. Saat ini, masih ada negara yang belum menerapkan single visa seperti Laos, Kamboja, dan Myanmar," tuturnya.

Sebelumnya, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Katolik Atma Jaya, A Prasetyantoko, mengatakan, ada beberapa penyelamatan jangka pendek terkait pemberlakuan ACFTA itu, yakni perlindungan produk dalam negeri (safeguard), program antidumping maupun kewajiban mencantumkan produk sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

Menurut dia, ACFTA dalam jangka menengah memberi kesempatan untuk memacu daya saing perekonomian domestik. Dalam jangka menengah, perlu memanfaatkan peluang dengan mengidentifikasi sektor yang komplemen terhadap produk China, mendorong peluang non perdagangan seperti investasi langsung untuk kapasitas produksi dan memperbaiki logistik.

Dari rilis Bank Dunia disebutkan, berdasarkan indeks logistik, Indonesia berada di peringkat ke-75 dibandingkan China (27), Afrika Selatan (28), dan Malaysia (29). "Kita masih tertinggal jauh soal logistik," ujarnya.
• VIVAnews