Optimis Raih Pasar Rp 700 Triliun Pada 2025

Dalam roadmap yang dibuat GP Farmasi Indonesia, tahun 2025 industri farmasi Indonesia ditargetkan akan menempati posisi 15 besar dunia dan memiliki pangsa pasar senilai Rp 700 triliun. 

Sekalipun pertumbuhan per tahun saat ini baru mencapai 10 persen, namun Kementerian Kesehatan Republik Indonesia optimis bisa memenuhi target tersebut. 
“Kita tetap optimis itu bisa dicapai, tapi tentu saja harus ada percepatan-percepatan yang dilakukan,” ujar Maura Linda Sitanggang, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.
Percepatan yang dimaksud diantaranya, meningkatkan volume ekspor dan memacu pertumbuhan pasar di dalam negeri. Percepatan ini akan terlaksana jika kondisi ekonomi dalam negeri juga mengalami pertumbuhan sesuai harapan.  
Selain itu, industri farmasi sangat terkait dengan lintas sektor. Salah satunya adalah Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Jika daya serap pasar perorangan terhadap produk obat-obatan bisa mencapai 4-5 persen, menurut Linda, maka target ini bisa dicapai.
Menanggapi soal bea masuk bahan baku obat kimia yang masih banyak dikeluhkan oleh perusahaan importir, menurutnya, harus dibahas di internal Kementerian Kesehatan dengan Kementerian Keuangan.
“Bea masuk impor bahan baku obat itu terkait dengan kebijakan viskal, dan itu menjadi kewenangan pihak Kementerian Keuangan,” ujarnya.    
Sekadar informasi, hingga saat ini kondisi bahan baku farmasi masih tergantung dengan impor yang mencapai 90 persen lebih. Sejumlah kendala masih menghadang para pemilik modal untuk membangun industri bahan baku di dalam negeri. 
Menurut Linda, sebenarnya, payung hukum investasi sudah ada dan tidak ada masalah. Yang menjadi masalah, membangun industri farmasi tidak bisa dalam waktu cepat. ketika investasi diperuntukkan membangun industri farmasi dari nol hingga produk jadi, maka baru bisa dioperasikan dalam tempo antara tiga hingga lima tahun berikutnya. Selain itu, butuh investasi yang cukup besar.
Persoalan ketersediaan bahan baku bukan hanya terjadi pada industri farmasi berbahan baku kimia. Tetapi juga pada industri obat-obatan herbal. Para pengusaha obat-obatan herbal di Indonesia masih banyak yang mengeluhkan soal transfer teknologi untuk bisa mengolah sendiri. Selain berbiaya tinggi, butuh kesiapan sumber daya manusia yang kompeten di bidang ini. 
Sekalipun demikian, bahan baku obat-obatan herbal, menurut Linda, Indonesia sudah melakukan ekspor ke beberapa negara. “Kita memiliki bahan baku herbal yang melimpah, makanya kita sudah bisa melakukan ekspor,” ujarnya. (pmmcnews)