Pertumbuhan Kota Picu Perkembangan DBD

foggingPertumbuhan penduduk dan ekonomi di negara berkembang, termasuk di kawasan ASEAN, memperbesar masalah demam dengue. Apalagi, perkembangan di sebagian besar negara berkembang belum diikuti infrastruktur dan sistem kesehatan masyarakat memadai.



Hal itu mengemuka dalam ASEAN Dengue Conference bertema "Dengue is Everybody's Concern, Causing Socio-Economic Burden, but It's Preventable", Selasa (14/6). Dalam kesempatan yang sama dilaksanakan Dialog Nasional Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih dan Menteri Dalam Negeri dengan perwakilan pemerintah daerah.

Dalam makalahnya, Director Signature Research Program in Emerging Infectious Diseases Duke-NUS Graduate Medical School Singapore Duane J Gubler menyatakan, tren perubahan epidemi dengue merupakan tren global. Pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang, termasuk di ASEAN, mendorong pertumbuhan kawasan perkotaan dan perkembangan transportasi modern. Hal itu diikuti perpindahan penduduk, hewan, komoditas, dan patogen.

Berdasarkan kasus yang dicatat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terjadi peningkatan kasus demam dengue secara global, yakni dari 908 kasus di hampir 10 negara tahun 1955-1959 menjadi 1.016.612 kasus di hampir 60 negara tahun 2000-2009.

Di Indonesia, kasus demam berdarah dengue (DBD) meningkat sejak tahun 1968, dari puluhan kasus menjadi 155.777 kasus tahun 2010 dengan total kematian 1.358 orang. Rata-rata tingkat kejadian nasional 65,57 per 100.000 penduduk.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan, peningkatan jumlah penduduk dan perubahan wilayah dari desa ke kota serta urbanisasi sering tidak diikuti dengan penataan kota yang baik.

Penyakit DBD tak lepas dari nyamuk sebagai vektor (pembawa) virus dengue. Daerah perkotaan yang kurang resapan air, padat, dan lingkungan yang tidak memerhatikan aspek kesehatan menjadi habitat nyamuk. Untuk itu, pemberantasan sarang nyamuk merupakan strategi utama.

Pemberantasan sarang nyamuk dan larva (jentik) juga menjadi strategi utama sejumlah negara di ASEAN seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei. Strategi itu diikuti manajemen penanganan kasus yang mengedepankan diagnosa tepat secepat mungkin.

Dalam dialog dengan para perwakilan pemda, Menkes mengatakan, penanganan demam dengue terbaik dengan pendekatan promotif dan preventif. Kota Mojokerto, misalnya, berhasil menurunkan angka kesakitan DBD lewat pemberantasan sarang nyamuk. Tahun 2004-2006 di Mojokerto selalu terjadi kejadian luar biasa. Angka kesakitan DBD 227 per 100.000 penduduk. Tahun 2010, setelah program berjalan, angka kesakitan turun menjadi 15 per 100.000 penduduk.

Uji coba vaksin Endang mengatakan, pengembangan vaksin DBD akan mengurangi angka kesakitan secara signifikan. Namun, manfaat vaksin baru akan dirasakan bertahun-tahun ke depan.

Seorang ahli yang terlibat dalam pengembangan vaksin oleh suatu produsen farmasi, Alain Bouckenooghe, menyatakan dalam makalahnya, pengembangan vaksin dengue dilakukan sejak tahun 1920. Sejumlah tantangan antara lain tidak adanya model binatang untuk demam dengue dan ada empat serotipe virus sehingga pembuatan vaksin rumit. Uji klinis untuk efikasi vaksin dilakukan tahun 2009 di Thailand. Uji klinis fase tiga dilakukan di sejumlah negara Asia.

Sehari sebelumnya, Ketua Tim Vaksinasi DBD DKI Jakarta dr Rini Sekartini mengatakan, dari 200 anak sekolah dasar yang jadi responden uji coba vaksin, baru 13 anak yang divaksinasi. Mereka bagian dari 800 penduduk Jakarta yang akan divaksinasi. Total penduduk Indonesia yang akan divaksinasi 2.000 orang. Negara lain tempat uji coba vaksin DBD adalah Thailand, Vietnam, Filipina, dan Malaysia.

 

http://health.kompas.com/index.php/read/2011/06/15/07351132/Pertumbuhan.Kota.Picu.Perkembangan.DBD