Convention on Pharmaceutical Ingredients (CPhI) South East Asia 2012


12Jakarta - Pemerintahan mendapat kepercayaan dari Convention on Pharmaceutical Ingredients (CPhI), konferensi bahan baku obat dari seluruh dunia sebagai tuan rumah untuk Asia Tenggara. CPhI yang berdiri sejak tahun 1900 dan pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia.



"Dengan adanya pameran, kita mengaharapkan apa yang mungkin dapat diproduksi dalam negeri, dapat diterapkan oleh para pengusaha farmasi, yaitu memikirkan apa bahan baku yang paling mungkin untuk dilakukan, yang paling visibel dilakukan. Atau, dapat pula menjaring perusahaan farmasi dari luar untuk mau berinvestasi dan membuat bahan baku di Indonesia," ujar Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemkes, Maura Linda Sitanggang, dalam konferensi pers, di Kantor Kemkes, Jakarta, Jumat (4/5).


Dirjen Binfar mengungkapkan, bahan baku obat 96 persen masih impor dari negara lain dan secara kemampuan Indonesia telah mampu memproduksi obat secara massal. 
"Saat ini, meskipun 90 persen obat diproduksi lokal, dan 10 persen impor. Tetapi 96 persen bahan baku obat yang diproduksi berasal dari impor," ujar Linda.

Beliau menjelaskan, pameran CPhI SEA 2012 ini bisa memberikan kesempatan kepada industri farmasi mendapatkan bahan baku obat, Kalaupun tetapi melakukan impor , kesinambungannya dapat dijaga.

"Ini untuk pertama kalinya konferensi terbesar di dunia, diselenggarakan di Asia Tenggara, dan Kemkes berhasil melobi untuk menjadi tuan rumah. Diharapkan, pameran ini dapat mendukung program dari Kemkes" ujar Lawrence Tjandra, mewakili ASEAN Bussines UBM Asia, di Kantor Kemkes.

11Wakil Sekretaris Jenderal GP Farmasi, Kendrariadi Suhanda, mengatakan keengganan industri farmasi untuk memproduksi sendiri bahan baku obat disebabkan rendahnya pangsa pasar farmasi di Indonesia.

Menurut beliau pangsa pasar obat di Indonesia tahun 2012 diproyeksikan hanya sekitar US$4,7 triliun dolar, atau hanya sekitar 0,4 persen dari total potensi pasar obat dunia yang mencapai lebih dari US$800 triliun dolar. Dari potensi US$4,7 triliun itu diperkirakan nilai bahan baku obat hanya seperempatnya.

"Kita tentu tidak mau produksi tetapi malah rugi, maka itu pengusaha farmasi lebih memilih produksi obat jadi ketimbang bahan baku obat. Namanya dagang pasti ada hitung-hitungannya," ujar bapak Kendra.

Beliau mengatakan konsumsi "drug per kapita" Indonesia memang masih kecil karena daya beli masyarakat yang masih rendah. Saat ini, menurutnya, mayoritas bahan baku obat Indonesia diimpor dari China, India, dan Eropa.

"Produksi bahan baku obat Indonesia memang kecil sekali, hanya sekitar empat persen, itupun kebanyakan bahan baku pendukung seperti alkohol, sisanya kalau bahan aktif kebanyakan masih impor," ujar beliau.

Lebih lanjut Kendra mengatakan bahwa rendahnya produksi bahan baku obat di Indonesia bisa diakali dengan strategi menjamin keberlangsungan stok bahan baku obat impor dengan mutu baik dan harga kompetitif.


Tujuan acara CPhI ini untuk menjadi pembuka jaringan kerja, sehingga dapat mengakselerasi antara industri farmasi Indonesia dengan industri bahan baku obat dunia. Beberapa materi yang akan digelar antara lain bahan baku aktiv, bahan baku alami dan bahan baku kemasan.

CPhI SEA 2012  yang akan diselenggarakan pada 10-12 Mei 2012, di JIExpo ini, merupakan wujud kerjasama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dengan Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI), dan didukung oleh Pharmaceutical Material Manajement Club (PMMC), dan United Business Media (UBM)

Acara ini akan diikuti 24 negara yang terdiri dari 221 peserta. Selain itu juga akan ada 5 paviliun nasional dan kelompok; China Chamber, CCPIT, Korea, Pharmexcil India, dan Mensa Group. Selain itu, banyak perusahaan dan suplier bahan baku farmasi dari Eropa, Amerika, Korea, India, China dan ASEAN, yang turut serta dalam pameran ini. tph