Bhakti Sosial bersama Menteri Kesehatan ibu Nafsiah Mboi

Bhakti Sosial Timika 2014Timika, Papua - Mendapat informasi yang cukup mendadak dari ibu Menteri Kesehatan,  meminta pengurus  GP Farmasi mendampingi ke Timika, Papua  tepatnya di Mumugu. Daerahyang terpencil, di kabupaten Asmat atau sekitar satu jam penerbangandengan Helikopter dari Timika. 

Perjalanan kali ini bagi Kemkes adalah lanjutan Bhaksos awal tahun 2013,  pada waktu itupun rombongan Kemkes dan juga diikuti oleh GP Farmasi, yang diwakili oleh bapak Tirto Kusnadi  Sekjen GP Farmasi dan bapak Kendrariadi sebagai wakil Sekjen GP Farmasi  dan Ketua Umum PMMC.

Dalam bhaksos ini, Bu Menkes meminta GP Farmasi membawa obat-obatan yang sangat dibutuhkan oleh penduduk setempat, terutama obat malaria,mengingat penyakit tersebut, yang banyak  didapati di daerah tersebut, selainkusta dan HIV.

Pengurus GP Farmasi membawa obat-obatan yang diperlukan oleh masyarakat setempat. Bapak Tirto Kusnadi  sebagai pemilik perusahaan farmasi PT. Mersi Farma membawa antibiotik dan obat malaria yang terbaru, DHP-Frimal , Dyhydroartemisin 40mg – Piperaquine phosphate 320 mg , Amoxycillin dan  lainnya dan bapak Kendrariadidari PT Actavis Indoensia membawa Folic Acid, obat yang sebenarnya akan di ekspor ke Italia dansebagian dikirim untuk keperluan kemanusiaan. Obat tersebutsangat ampuh untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, sangat baik untuk ibu hamil dananak-anak, juga dapat mecegah penyakit kanker dan lainnya.

MUMUGU, kami datang lagi …

Pagi yang sangat cerah 16 April 2014, merupakan pertanda baik untuk perjalanan ke desa Mumugu, desa terpencil di kabupaten Asmat. Dimana ditemukan banyak masyarakatnya terkena  penyakit Kusta  dan tentunya berbagai penyakit lainnya  yang lazim ditemukan di daerah tersebut.

Setelah makan pagi di hotel dimana kami menginap, Rimba Papua hotel milik Freeport,kami segera berangkat ke bandara Mozes Kilangin yang mempunyai area hangar untuk helicopter. Pengurus GP Farmasi  menunggu kedatangan  ibu Menkes yang terbang dari Jayapuradan melanjutkan bersama kami ke Mumugu dengan helikopter   .

Helikopter hanya bisamengangkutpenumpang maksimum sembilanorang sehingga hanya terbatas untuk rombongan yang dipilih oleh protokoler Kemkes. Diantaranya ibu Menkes bersama  Stefani sekretaris ibu Menkes, bapak Prof Chandra Dirjen Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemkes,  Wakil Bupati Timika,Kepala dinas Kesehatan Papua, bapakAfonsius Piey, Danrem Timika bapak BrigjendBambang, bapak Tirto Kusnadi dan bapak Kendrariadi  .

Terbang ke Mumugu dengan helikopter merupakan pengalaman tersendiri, hamparan hijau hutan tropis yang masih “perawan” dengan sungai yang meliuk liuk ibarat “ular” dan kawanan burung terbang berkelompok  yang terlihat dari helicopter merupakan pemandangan alam yang sangat luarbiasa.

Tempat pertama yang dituju adalah Mumugu 1, dimana rombonganturun setelah terbang sekitar 1 jam untukmengisi bahan bakar avtur yang sudah disiapkan duadrum yangdibawa lebih awal dengan bantuan Freeport. Mengingat di kota Agats atau ibukota kabupaten Asmat tidak tersedia Avtur yang “fresh” , hanya ada yang dibeli bulan Mei2013 dan saat ini Merpati sudah tidak beroperasi disana, tentu hal ini sangat beresiko tinggi kalau digunakannnya   .

Mendarat di Mumugu 1, rombongan disambut oleh penduduk  asli dengan tarian dan pengalungan bunga olehperwakilan penduduk.  Banyak penduduk setempat mengemukakan berbagai kesulitan diantaranya air bersih, listrik dan guru. Hal tersebut merupakan janji  ibu Menkes sewaktu kunjungantahun lalu dan ini merupakan catatanwakil Bupati Timika sebagai pekerjaan rumah yang belum dilaksanakan sejak tahun lalu.       

Setelah selesai mengisi bahan bakar, rombonganterbang lagi sekitar 10 menit ke Mumugu 2 atau “the real  Mumugu”. Kedatangan rombongansudah ditunggu oleh masyarakat setempat dan staf dinas KesehatanTimika yang sudah datang sehari lebih awal untukmenyiapkan kedatangan dan acara bhaksos tersebut .

Disambut pemuka agama setempat.

Rombongandisambut oleh pemuka agamayaitu Mgr Aloysius dan masyarakat setempatmemanggilnya Mgr Loi, bersama para suster yang berkarya membantu masyarakat setempat terutama yang terjangkit penyakit kusta.

Mgr Loi mengajak rombongan ke gereja setempat yang kondisinyasangat sederhana, untuk mengadakan ibadat Sabda bersama masyarakat Mumugu. Upacara ibadat Sabda  berlangsung sederhana,diiring lagu dan alat musik tradisional Papua, gendang tifa dan gitar. Alat musik tersebut, diantaranya buatan masyarakat setempat. Dengan semangat, masyarakat setempat memainkansambil menari-nari dan diselingi “jeritan-jeritan”  ala penduduk Mumugu, Papua.

Sekitar satujam kami di gereja kemudian dilanjutkan dengan acara pokok yaitu bhaksos dan rombongandibawa ke Puskesmas desa tersebut.

Dimulai dengan sambutan dan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan dan dikerjakan semenjak kedatangan ibu Menkes di bhaksos awal tahun 2013.

Wakil Bupati Timika, Kepala Dinas Kesehatan dan tentunya ibu Menkes memberikan arahan untuk penduduk setempat terutama yang terjangkit penyakit Kusta. Bahkan ada hadiah banyak penderita Kusta yang secara tuntas dalam setahun memakan obat hingga sembuh total. Hadiah tersebut untuksekitar 18 orang yang tuntas makan obat kusta tersebut, yang sudah disediakan oleh ibu Menkes yaitu kalung Rosario, seperti  tasbih alat sembayang bagi umat Khatolik  .

Berbagai sumbangan diberikan secara simbolis dalam acara tersebut, mulai dari alat kesehatan, obat-obatan, bibit pohon, sayur-mayurdan lain-lannya, termasuk bantuan obat-obatandari GP Farmasi.

Sumbangan obat-obatandari GP Farmasi tersebut, ibu Menkes secara khusus mengungkapkan bahwa beliau sangat berterima kasih atas peran serta GP Farmasi dan juga meminta mendampingi beliau ke Mumugu, seperti tahun lalu.

Acara bhaksos yang memakan waktu sekitar dua setengah jam berjalan lancar dan rombongandi “lepas” Mgr Aloysius bersama penduduk setempat  untuk perjalanan pulang ke Timika.

Obat-obatan yang dibawa pengurus GP Farmasi diputuskan untuk dibagi dua, sebagian untuk  keuskupan Agats dimana Mumugu didalamnya dan sebagian lagi untuk keuskupan Timika yang juga sangat membutuhkan obat donasi tersebut .

“Lelah” memang perjalan kali ini, namun melihat penduduk yang gembira karena kegiatan bhaksos, hatipun terasa “lega” dan hilanglah rasa lelah”, ungkap bapak Kendrariadi.

Masih banyak saudara-saudarakita yang tinggal dipelosok tanah air tercinta, yang membutuhkan uluran tangan kita, semoga kegiatan bhaksos di Mumugu ini merupakan bagian dari kegiatan sosial GP Farmasi/PMMC  untuk selalu  tetap PEDULI.

Semoga menjadi perhatiaan kita semua…

Timika , 15-17 April 2014              

(kr/tph)

foto spesial bapak Kendrariadi