BKPM: Ekonomi Indonesia Semakin Membaik

BKPMKepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI, Gita Wirjawan memberikan kuliah umum pada ratusan mahasiswa dan dosen Universitas Sam Ratulangi Manado tentang posisi Indonesia dalam perekonomian dunia yang semakin membaik.



"Secara umum posisi Indonesia saat ini semakin baik, ditandai skala ekonomi Indonesia yang terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, sehingga diperkirakan 20 tahun ke depan Indonesia bisa menjadi lima besar dunia," kata Kepala BKPM RI, Gita Wirjawan dalam kuliah umum di Manado, Kamis (11/8).

Beberapa indikator yang menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia semakin baik diantaranya rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) atau ukuran pemikulan utang relatif lebih rendah yakni hanya sekitar 26%.

"Bandingkan dengan negara lain yang sudah maju sekali pun dengan rasio pemikulan utang sangat tinggi, contohnya Yunani 162%, bahkan Jepang punya 230%," kata Wirjawan.

Selain rasio utang terkendali, kemampuan pemerintah daerah yang dalam 19 bulan terakhir ini hanya menaikan tingkat suku bunga satu kali saja, memberi tanda bahwa potret moneter Indonesia luar bisa baiknya.

"Beberapa negara termasuk negara maju sekalipun terpaksa melakukan pemangkasan tingkat suku bunga beberapa kali guna menekan inflasi, tetapi Indonesia meskipun hanya melakukan satu kali pemangkasan suku bunga tetap mampu mempertahankan tingkat inflasi stabil," kata Wirjawan.

Wirjawan mengatakan, dengan angka tersebut dapat dikatakan bahwa ekonomi Indonesia saat semakin baik sehingga optimistis negara ini mampu tumbuh dan berkembang lebih maju ke depan.

"Potret fiskal dan moneter Indonesia semakin seksi, karena mampu bertahan stabil dibandingkan banyak negara bahkan negara maju sekalipun," kata Wirjawan.

Kondisi ekonomi semakin baik, kata Wirjawan didukung kualitas demografi Indonesia yang sangat menarik karena separuh dari jumlah penduduk Indonesia masih berusia muda dan produktif.

"Sebanyak 50 persen populasi penduduk Indonesia berusia 29 tahun ke bawah, karena itu saya sebut generasi smash, generasi anak muda, dan ini sesuatu yang menarik bagi investor, sebab mereka mencari sumber daya manusia produktif," kata Wirjawan.

Yang sedikit mengkhawatirkan Indonesia, kata Wirjawan justru karena konsumsi beras dan cabai masih terlalu tinggi, sehingga sering menjadi penyebab inflasi.(ant/hrb)