Industri Kreatif tidak Didukung Perbankan

online-printing-servicesINDUSTRI KREATIF telah memberi kontribusi Rp151 triliun atau 6% terhadap GDP. Namun, perkembangannya masih terkendala sektor permodalan yang belum mendukung sepenuhnya.

Dunia perbankan pun dinilai mustahil dapat menjadi penyangga bangkitnya industri ini. Pasalnya, sistem perbankan tak didesain untuk menunjang industri yang memiliki aset yang bersifat intangible.



Demikian mengemuka dalam program Ideafest Ideas Conference yang dipandu presenter Kick Andy Andy F Noya, sebagai salah satu rangkaian pameran Forum Grafika Digital Expo (FGDexpo) 2011, di Jakarta, Sabtu (23/7).

"Kontribusi industri kreatif terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) hampir 6 % atau 151 Triliun, itupun dengan cara pengembangan yang belum ideal," ungkap Menteri Perindustrian MS Hidayat.

Ketidakidealan penanganan industri ini, akunya, terletak pada belum optimalnya dukungan pemerintah dalam hal regulasi dan aplikasinya, belum adanya roadmap jangka panjang industri kreatif, serta perlindungan hak cipta. Dan, terutama, sistem permodalan yang belum mendukung, dimana perbankan seharusnya hadir.

Dengan hambatan tersebut, ia tak heran jika banyak kreasi-kreasi anak negeri alah menjadi milik negara asing akibat didanai pihak luar.

"Dunia perbankan menjadi kendala, (karena industri kreatif) enggak bisa penuhi prosedur jaminan," cetusnya.

Lebih jauh, Enterpreneur Muda Sandiaga Uno mengungkapkan, kesulitan perbankan dalam memberi pinjaman modal bagi pengembangan industri kreatif ini terletak pada ketiadaan penjaminan aset. Pasalnya, industri yang dominan digerakkan oleh kaum muda ini jauh lebih banyak mengandalkan ide yang sifatnya intangible (tak benda).

Sehingga, baginya mustahil menempatkan perbankan menjadi tulang punggung industri yang keban yakan hanya bermodal ide ini.

"Intinya kalau berharap perbankan beri solusi, itu tak akan terjadi. Mereka tak didesain memberi pinjaman kepada industri yang tak punya aset nyata dan track record jelas. Sementara, industri kreatif tak punya itu," urainya.

Menurutnya, solusi alternatif terbaik salah satunya adalah melalui modal ventura. Jenis permodalan yang kini banyak mendanai kredit motor ini dipandang lebih fleksibel dalam pencairan dana. Atau, katanya, dapat melalui metode arisan antar pekerja industri ini dalam membiayai sebuah ide-ide baru.

Begitupula dengan major capital yang merupakan pemodal asing yang kini makin gencar mengincar pembiayaan industri kreatif. Kata Sandi, pihak luar telah menyadari bahwa Indonesia memiliki kreator-kreator yang potensial menghasilkan produk-produk inovatif.

"Namun untuk mengurus ijin modal ventura ini baru bisa 12-18 bulan. Ini terlalu lama, karena ide harus singkat dibiayayi. Indusatri kreatif takkan tumbuh kalau ekosistemnya tidak jadi," jelas pemilik Saratoga Group ini.