Jelang Munas GP Farmasi Indonesia, Persiapan Panitia dan Calon yang Digadang-gadang

Jakarta, PMMC daily - Masa kepengurusan Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi Indonesia) periode 2012 – 2016 tak lama lagi akan segera berakhir. Rencananya, 23-25 Oktober mendatang, kepengurusan baru akan segera dibentuk melalui Musyawarah Nasional (Munas) yang akan diadakan di Kota Bandung, Jawa Barat.
 
Seperti apa kesiapan Munas GP Farmasi Indonesia sekarang?
Teddy Iman, salah satu anggota SC (Stering Commitee) Munas ini menjelaskan, bahwa sampai saat ini panitia masih terus bekerja. Tim SC bertugas sebagai tim yang menjaring para calon ketua umum.  
 
Pebentukan tim ini adalah seuai dengan AD/ART GP Farmasi Indonesia, bahwa enam bulan sebelum pemilihan, harus sudah dibentuk tim yang akan menjaring para kandidat yang akan maju sebagai Ketua Umum GP Farmasi Indonesia. 
“Tim penjaringan bukan tim yang menentukan calon untuk menjadi ketua, tapi hanya menjaring saja. Tim ini sudah dibentuk yang terdiri dari lima orang,” ujarnya.
 
Menurut Teddy, sejak dibentuk, tim ini sudah mulai bekerja dan siap mengirimkan formulir ke seluruh Pengurus Provinsi (Pengprov) GP Farmasi Indonesia untuk segera megusulkan nama calon Ketua Umum yang akan diusung. 
Menurut ketentuan AD/ART, calon yang diusung paling sedikit didukung oleh tiga Pengprov. “Jadi kalau ada satu nama yang didukung oleh tiga Pengprov, maka dia sudah layak dan sah jadi calon ketua umum. Kalau sudah ada nama-nama yang sah kan kami dari SC enak,” tambahnya. 
 
Jika sudah terjaring nama-nama calon ketua umum, selanjutnya para kandidat akan dimintakan kesediaan nama-nama tersebut untuk “benar-benar” menjadi  calon ketua umum. Ini penting, mengingat tidak semua nama yang diajukan oleh Pengprov itu bersedia. 
Kesediaan itu akan dituangkan dalam formulir yang telah disiapkan oleh Tim SC. Formulir yang dikirimkan itu memiliki batas waktu, agar tidak berlarut-larut.  
 
Menurut Teddy, jika banyak nama yang muncul untuk jadi kandidat, namun tidak didukung oleh minimal tiga Pengprov, itu akan sulit karena tidak memenuhi kualifikasi yang ditentukan. 
“Kalau hal ini terjadi, maka nama-nama ini akan kita kirimkan ke Pengprov-pengprov untuk dipersilakan memberi dukungan kepada nama mana yang akan didukung,” ujarnya.  
 
Menurut Teddy, proses pemilihan dalam Munas nantinya, akan  menggunakan pola Munas sebelumnya, yakni melalui voting. Dan tak tertutup kemungkinan, akan muncul calon tunggal, jika memang nantinya tak ada yang bersedia untuk mencalonkan diri.
“Kalau muncul calon tunggal itu bukan lagi wewenang kami di panitia, tapi itu jadi wilayahnya Presidium. Kami hanya berwenang menjaring nama saja,” ujarnya. (a.kholis/tph)