Ketoprak ala Eksekutif Farmasi

wayangEksekutif dan pengusaha obat-obatan menyemarakkan acara Ketoprak Guyonan Campur Tokoh Puspo Budoyo. Akting mereka polos bak pemula yang masih belajar. Walhasil, penonton tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan "ulah" mereka di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (17/4).

Begitu layar panggung dibuka, sekitar 10 orang berpakaian China berdiri tegak di atas panggung. Hening. Sedetik kemudian, kesunyian terpecah saat seorang pria bertubuh kecil dan berkacamata mengucapkan dialog pembuka. Alih-alih ingin memperlancar awal pementasan, si pria itu malah merusak skenario lantaran ia terbata-bata mengucapkan dialognya. Buka dong kacamatanya Pak, masak uda empat kali latihan, lupa (dialognya) terus," kata Eko DJ, komedian senior Srimulat menimpali "keanehan" dari pria berkacamata itu.

Komentar Eko itu tak pelak memicu derai tawa penonton yang membahana di seisi ruangan. Malam itu, gedung pertunjukan yang berlokasi di bilangan Pasar Baru, Jakarta Pusat, sedang menampilkan ketoprak humor yang dimainkan 29 pemain dari kalangan pengusaha, karyawan, dan eksekutif perusahaan farmasi, serta pejabat Departemen Kesehatan.

Tanusama Widjadja, misalnya, si pria berkacama, adalah salah satu pemain dari pergelaran komedi tradisional yang berlangsung hingga dua jam ini. Pria yang menjabat sebagai konsultan/Plan Advisor PT Ikapharmindo Pratama, Guardian Pharmatama, dan Mepofram ini memerankan tokoh Menteri Kong We Pae di Kekaisaran Syang Wu, China.

Selain itu, sederet top eksekutif lainnya, seperti Preskom PT Kalbe Farma Yohanes Setijono yang berperan sebagai Kaisar Muda Syang Wu, Presdir Enseval Teddy Imam Suwahyo sebagai Chen Tsu, atau Wakil Sekjen Gabungan Pengusaha Farmasi Kendrariardi S yang menjadi Bre Wirabhumi, turut memeriahkan pergelaran yang mengambil lakon Cheng Ho Dalam Paregreg ini.

Mereka umumnya tidak piawai berakting, tapi justru itu kekuatan dari pementasan yang digagas oleh Puspo Budoyo pimpinan Luluk Sumiarso ini. Kelompok ketoprak ini berupaya memadupadankan akting antara para eksekutif tersebut dengan pemain ketoprak senior.

Eko yang berperan sebagai Menteri Sian Wong, senantiasa berceloteh dan menimpali dialog dari para pelaku usaha farmasi. Dirut PT Indofarma Tbk Sudibyo yang berperan sebagai Pasungguhan Pandan Salas yang datang ke Kerajaan Tiongkok sempat diam seribu bahasa di tengah dialog. "Kok bingung Pak, padahal kan udah di-catet," ujar Eko sambil menunjukkan tangan kanan Sudibyo ke arah penonton. Sudah bisa ditebak, penonton tertawa melihat adegan seperti itu.

Andaipun mereka lancar melafalkan dialognya, bukan berarti Eko terdiam. Dia terus-terusan menggoda " para pemain bau kencur ini. "Hapal kabeh," ucap Eko yang langsung disambut tawa penonton. Sebagai pemain berpengalaman, Eko memang menjadi garda terdepan untuk membuat suasana pementasan ini menjadi berwarna.

Ia tidak hanya menutupi dialog para pemain farmasi, tetapi juga memperbaiki masalah teknisnya. Berkali-kali Eko selalu memperbaiki posisi (blocking) mereka di panggung agar tidak membelakangi penonton. "Pak, ngomongnya ke arah penonton, nah begitu kan lebih baik."

Untuk menghidupi jalannya pementasan, Eko tidak bekerja sendirian, sebab ia dibantu Kirun dan Marwoto. Di panggung, dua komedian itu acap kali melempar banyolan seputar dunia obat-obatan dan farmasi.

Di sela-sela itu, mereka juga menyampaikan pesan tentang kontribusi farmasi Indonesia bagi kesehatan masyarakat. Semacam kampanye kesadaran masyarakat terhadap obat-obatan dalam negeri, kurang lebih itu yang disampaikan oleh mereka. Kisahnya sendiri kental dengan sejarah Kerajaan Majapahit yang sedang dilanda pertikaian antara Wikramawardhana melawan Bhre Wirabhumi serta petualangan Cheng Ho di tanah Jawa