“Pemerintah Mendorong Tumbuhnya Pabrik Bahan Baku”

Pharma Materials Management Club (PMMC) memprediksi nilai impor bahan baku farmasi di Indonesia pada tahun ini mencapai US$ 1,35 miliar. Di sisi lain, penjualan farmasi 2013 ditaksir senilai US$ 5,4 miliar atau tumbuh 13,4% dibandingkan realisasi tahun lalu. Proyeksi penjualan farmasi didasari oleh pertumbuhan rata-rata tahunan kenaikan atau compound annual growth rate (CAGR) industri farmasi sebesar 13,4%. 
 
Porsi bahan baku terhadap penjualan farmasi memang masih stabil, yakni sebesar 25% dari total omzet industri farmasi. Dan pada 2014, nilai impor bahan baku farmasi diperkirakan mencapai US$ 1,53 miliar dari estimasi penjualan farmasi senilai US$ 6,12 miliar. Namun demikian, dari nilai sebesar itu, ketergantungan impor masih mendominasi. Sebesar 90% bahan baku obat kimia seperti obat injeksi dan obat generik masih impor yakni dari China, India dan negara di Eropa.
 
Benarkah Indonesia belum siap membangun industri bahan baku sendiri?
Dan sampai kapan ketergantungan impor ini akan msih berlangsung? Dra. Maura Linda Sitanggang, Apt. PhD, Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kememnterian Kesehatan kepada PMMC News menjelaskan hal ini. Berikut penjelasannya: 
 
Bagaimana kesiapan bahan baku obat-obatan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan industri farmasi dalam negeri saat ini?
Sebenarnya kalau dari sisi formulasi, Indonesia sudah 95%. Jadi untuk bahan bakunya itu sangat mendukung, tetapi tidak langsung. Karena penjualannya hanya ke industri farmasi. Pemerintah mendorong untuk tidak bergantung pada bahan baku. Kita sudah ada lima atau enam (produsen) bahan baku. Tapi saya kira itu masih kurang, maka itu kita akan mendorong supaya ada pabrik-pabrik bahan baku lagi di Indonesia.
 
Untuk tahun ini berapa target yang didorong pemerintah agar bisa memenuhi kebutuhan farmasi di dalam negeri?
Kalau untuk bahan baku herbal sudah ada beberapa produk. Tetapi untuk yang kimia kita melihat, yang belum masuk dalam katagori pharmaceutical grade akan kita dorong agar bisa masuk ke dalam katagori pharmaceutical grade.
 
Apa kendala yang paling krusial untuk bisa membangun industri bahan baku sendiri?
Pertama adalah masalah upscaling dari ukuran kecil ke ukuran manufacturing. Yang kedua adalah kendala persaingan harga di tingkat dunia, karena di Indonesia sendiri pasarnya masih sedikit. Nah, kalau hargnya tidak bisa kompetitif, ya pasti rugi.  Kita harus cari yang bisa kompetitif di Indonesia. Misalnya, bahan baku yang natural resources yang memang diperlukan sangat banyak, tetapi teknologinya bisa kita lakukan.
 
Berapa target industri bahan baku yang sedang didorong pemerintah tahun ini?
Bahan baku itu sangat banyak. Untuk item zat aktif saja bisa mencapai 1.000 lebih. Kita tidak berfikir untuk memproduksi sampai 1.000, tetapi kita cukup yang kita bisa. Tahun ini kita targetkan 15 industri bahan baku. Kalau kebutuhan bahan baku dalam hal volumenya, kita berkembang.  
 
Bagaimana dengan kesiapan investasinya?
Investasi itu kan sangat tergantung dari ukuran industri yang akan di bangun. Satu produsen atau pabrik bisa memproduksi lima bahan baku. Apalagi kalau untuk bahan baku alami. 
 
Sejauh ini sudah ada investor yang minat?
Masih butuh waktu untuk respon. Tetapi saya lihat  sudah ada manufacturing. Sudah ada yang kan memulai bulan Juni tahun ini. (pmmc daily)