UBM mengelar CPhI SEA di Indonesia

Jakarta, Mei 2014 - CPhi SEA 2014 akan digelar di JIExpo Kemayoran 20 - 22 Mei 2014, akan menghadirkan bahan baku obat inovatif dengan kualitas yang tinggi sehingga dimudahkan ketersediaan obat di Indonesia dan dilengkapi dengan pameran P-MEC (machinery and equipment) dan Inno Pack (packaging solutions).
Konferensi pers Convention of Pharmaceutical Ingredients South East Asia (CPhI SEA) 2014 dilaksanakan di Hotel Crowne Plaza, Jalan Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (13/5/2014).
Untuk kegiatan CPHI Sea 20-22  Mei 2014, sudah ke tiga kalinya di Indoensia, diadakan Press Conference dengan mengundang wartawan dan dihadir pimpiman UBM yaitu Mr Christopher Eve, President Director, PT UBM Pameran Niaga, Ketua Umum PMMC Kendraiadi Suhanda dan perwakilan dari BPJS Irfan Humaidi.
Pameran CPhI SEA 2014 mendukung program JKN untuk membantu pemerintah untuk ketersediaan bahan baku obat. Program JKN tersebut sudah digelontorkan oleh pemerintah sejak 1 Januari 2014. Peserta JKN adalah seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 257,5 juta jiwa dan ditargetkan terlaksana paling lambat 1 Januari 2019.
Kepala Departemen Humas, BPJS Kesehatan bapak Irfan Humaidi mengatakan, berdasarkan catatan BPJS Kesehatan, per 9 Mei 2014, total jumlah peserta BPJS Kesehatan adalah sebanyak 121,6 juta orang atau sudah mencapai target tahun 2014. 
Dalam pelaksanaan lima bulan, JKN telah menerima berbagai respon termasuk perihal ketersediaan obat. Layanan kesehatan dengan ketersediaan obat menyerap 35% - 40%   dari seluruh komponen biaya di puskesmas maupun rumah sakit. “Ketersediaan obat inovatif dan berkualitas sangat dibutuhkan, disinilah peran industri farmasi untuk memproduksi obat-obat berkualitas namun terjangkau oleh pemerintah,” tambahnya. 
Tantangan industri farmasi Indonesia salah satunya ketergantungan bahan baku farmasi sekitar 90%. Bapak Kendrariadi Suhanda, Ketua Umum Pharma Materials Management Club (PMMC) dan Wakil Sekretaris Jenderal Asosiasi Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi Indonesia, menjelaskan, mayoritas bahan baku masih didominasi Tiongkok dan India sebesar 60%, padahal produk farmasi dalam negeri juga sudah memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) dan sebagian sudah memenuhi standar internasional.