Waspadalah! Peredaran Obat Palsu Kembali Menggeliat

Bak siluman, peredaran obat palsu dan vaksin di pasaran selalu timbul tenggelam. Seakan tak ada kapoknya, meski sudah banyak para pelaku yang sudah tertangkap, mereka terus melakukan aksinya. Kerugian yang diakibatkan peredaran obat palsu ini tak hanya diderita oleh kalangan pelaku industri farmasi, namun juga masyarakat sebagai pengguna.
 
Sebab itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) meminta masyarakat berhati-hati dalam memilih dan mengonsumsi obat. Banyak modus yang digunakan untuk memasarkan obat palsu, di antara salah satunya dengan mengubah tanggal kadaluarsa. 
"Modusnya mulai dari mengubah kadaluarsa dari dua tahun menjadi empat tahun. Adapula dengan meniru barcode atau kode batang dan bahkan hologram kemasan,” kata Plt. Kepala BPOM, Bahdar J Hamid di sela-sela Buka Puasa Bersama PMMC di Kemayoran, Jakarta (17 /06) .
Menurut Bahdar, hingga saat ini peredaran obat palsu yang sudah ditemukan berkisar antara 2-3 persen dari total peredaran obat yang ada. Namun, katanya, fenomena peredrana obat palsu ini bak gunung es saja. Yang terlihat sekarang baru bagian permukaannya. Selebihnya, masih banyak yang belum terungkap.
Pada 2015 saja, BPOM mengusut ratusan kasus obat palsu dan obat ilegal dari berbagai daerah di Indonesia dengan nilai total mencapai Rp2,9 miliar.  BPOM menemukan obat palsu yang masuk ke Indonesia diproduksi dari India dan Cina. Mulai dari obat, kosmetik, obat tradisional dan juga pangan. 
 
Himbauan PMMC
Terkait dengan kasus ini, Ketua Umum PMMC Kendrariadi Suhanda memastikan akan berdampak pada industri farmasi. Menurutnya, para pelaku industri farmasi tidak nyaman dengan banyak ditemukannya obat-obat palsu berada di jalur pasar tidak resmi.  
Karena itu, ia mengajurkan agar masyarakat membeli obat-obatan di toko obat atau apotek yang resmi. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang membeli obat hanya dengan pertimbangan harga yang murah, namun tidak memikirkan keaslian obat.
Sebagai Ketua Umum PMMC, Kendrariadi tak bosan-bosannya menghimbau kepada para pelaku industri farmasi agar menjaga jalur distribusi obat dengan baik. Jika menemukan adanya obat-obat palsu di jalur distribusi, maka wajib mewaspadai. Apalagi jika obat palsu tersebut meniru obat-obat resmi yang ada di Indonesia. 
“Biasanya, obat-obatan yang ditiru itu obat-obatan yang laris di pasaran. Dengan teknologi tinggi yang dimiliki, mereka bisa memalsukan obat,” ujarnya. 
Menurutnya, dengan kemampuan teknologi yang berkembang begitu cepat saat ini, beragam jenis obat bisa dipalsukan. Maka itu, katanya, para pelaku industri perlu membuat obat yang memiliki tingkat kesulitan tinggi agar tidak mudah dipalsukan.
“Bisa saja dengan pemberian tanda tertentu yang hanya orang-orang tertentu yang tahu, sehingga dengan mudah teman-teman dari BPOM mengecek keaslian obat tersebut,” jelasnya. 
Kendraridi mengatakan, untuk mengatasi persoalan beredarnya obat palsu di pasaran harus ada kerjasama semua unsur, baik dari pemerintah, para pelaku industri farmasi, dan masyarakat. Kerjasama ini penting dilakukan, mengingat obat palsu yang beradar di pasaran sulit dibedakan secara kasat mata orang awam.
Dari sisi kemasan maupun bentuk obatnya, para pemalsu bisa membuat semirip mungkin dengan aslinya. Kendrariadi juga menghimbau agar para pelaku industri farmasi tetap menjaga kualitas obat produksinya. “Sungguh kasihan masyarakat jika mereka harus menelan obat palsu yang akibatnya sangat membahayakan kesehatannya,” ujarnya. (Abdul Kholis)