Yohannes Setiono, PT. Merindo Makmur, Pergeseran Kemasan dari Gelas ke Plastik

Jakarta, PMMC daily – Jakarta. Saat ini, teknologi packaging terus berkembang seiring dengan makin meningkatnya kebutuhan pasar. Bahkan, bisnis dunia kemasan juga mengalami pergeseran material dan fungsi pemakaian secara signifikan. 
 
Salah satunya adalah penggunaan kemasan berbahan baku gelas (kaca). Kemasan dengan material gelas, belakangan mulai bergeser menggunakan plastik. 
Kini, sudah cukup banyak industri makanan dan minuman yang sebelumnya menggunakan kemasan berbahan baku gelas berlih menggunakan kemasan berbahan baku plastik.  Bahkan, dimungkinkan industri farmasi akan melakukan hal yang sama.  
 
Ada beberapa alasan mendasar dari tren pergantian ini. Menurut Yohannes Setiono dari PT Merindo Makmur, salah satu alasan pergantian ini adalah karena kemasan berbahan baku gelas dianggap rijit atau merepotkan.
 
“Untuk aplikasi tertentu, kemasan berbahan baku gelas juga banyak risikonya. Kemasan gelas itu gampang pecah kalau terjatuh atau terbentur,” ujarnya.
Alasan lainnya, dari sisi transportasi, kemasan berbahan baku gelas berbiaya tinggi dibandingkan dengan kemasan plastik. Meski dari sisi volume bisa dikatakan sama, namun dari sisi berat, kemasan berbahan baku gelas jauh lebih berat dibanding plastik.
 
 
 
Meski demikian, Johanes mengatakan, tak semua kemasan bisa digantikan dengan kemasan berbahan baku plstik. Ada beberapa aplikasi yang masih tetap aman dan terjamin dengan menggunakan kemasan berbahan baku gelas.  
“Misalnya produk-roduk yang sensitif terhadap udara, maka kemasannya harus tetap menggunakan kemasan gelas,” katanya.
 
Menurut Johanes, seaman-amannya kemasan plastik, material ini masih memiliki pori-pori. Walaupun ukurannya sangat kecil, namun bisa ditembus. Nah, untuk produk-produk tertentu, justru kemasan ini bisa berbahaya.     
 
“Tapi yang paling perlu diperhitungkan adalah soal harga. Harga kemasan berbahan baku gelas, bisa 20 persen lebih mahal dibandingkan dengan kemasan berbahan baku plastik. Ini angka yang cukup signifikan,” ungkapnya. 
 
Bagi  industri skala besar, selisih 20 persen tentu saja sangat menjadi perhatian serius dari sisi keuangan. Hanya saja, kemasan berbhan baku plastik sampai sekarang masih menyisakan persolan tersendiri, mengingat plastik sulit terurai di dalam tanah. (a.kholis/tph)