RAKERPROV 2019 GP Farmasi Indonesia DKI Jakarta

RAKERPROV 2019 GP Farmasi Indonesia DKI Jakarta

Strategi meraih peluang di era disrupsi dalam bidang farmasi

Dalam era Industri 4.0, pelaku usaha diharapkan bisa melaju dengan cepat dengan berbagai kemajuan teknologi informasi yang berkembang saat ini. Smartphone dalam satu genggaman bisa mendatangkan milyaran dalam satu hari, pelaku usaha farmasi yang melirik peluang tersebut akan lebih cepat berkembang namun pelaku bisnis farmasi yang kurang update teknologi informasi akan lebih cepat gulung tikar. Industri perbankan mendukung rencana usaha farmasi yang ingin mengembangkan usahanya seluas mungkin. 

Jakarta – Rapat Kerja Provinsi(Rekerprov) Gabungan Perusahaan Farmasi DKI Jakarta yang digelar 21 Maret merupakan agenda tahunan organisasi. Tema yang diusung oleh panitia Rakerprov "Strategi Meraih Peluang di Era Disrupsi dalam Bidang Farmasi".
Ketua penyelenggara diberikan ketua umum GPFI DKI Jakarta kepada Djoko Rusdianto dan ketua pelaksanan F. Didik Wirayawan Adhi. Acara dilaksanakan di hotel Grand Mercure Kemayoran Jakarta. Perserta dan undangan yang hadir lebih dari 250 orang dari pelaku usaha farmasi, GPFI Pusat, PMMC, IAI DKI Jakarta dan Balai POM DKI Jakarta.

Narasumber yang berkaitan dengan tema tersebut mantan kepala BPOM (2013-2016) Roy Sparringga (Regulation Perspectives on Pharma 4.0: Challenges and Opportunities), ketua bidang Industri Roy Lembong (Aspek Bisnis, Inisiatif & Investasi), ketua komite digital Jonathan Sudharta (Menghadapi Era Industri 4.0 di Industri Kesehatan Indonesia) dan HR Director May Bank Irvandi Ferizal (Ready for Facing 4.0 Era).

Rakerprov dibuka oleh ketua umum GPFI DKI Jakarta Handoko Boedi Soetrisno, dalam paparannya,"Pada revolusi industri 4.0, menjadi lompatan besar bagi sektor industri,terutama industri farmasi dimana teknologi informasi dan komunikasi dimanfaatkan sepenuhnya. Tidak hanya dalam proses produksi, melainkan juga di seluruh rantai nilai industri sehingga melahirkan model bisnis yang baru dengan basis digital guna mencapai efisiensi yang tinggi dan kualitas produk yang lebih baik, dari semua ini tidak luput dari dukungan finacial dan acara ini didukung oleh May Bank”.

Sebelum inti acara rakerprov, panitia adakan penandatanganan kerjasama dengan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) DKI Jakarta. Dalam perjanjian kerjasama tertuang sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Countinuous Pharmaceutical Education atau seminar seminar dengan saling mensupport baik secara materil maupun non materiil
2. Pengabdian kepada Masyarakat secara bersama sama
3. Membantu menyediakan sarana untuk PKPA
4. Pelatihan bersama untuk meningkatkan kompetensi apoteker disektor pelayanan,distribusi dan industri dengan pemateri atau trainer dari praktisi
5. Kerjasama dalam hal peningkatan kompetensi dan sertifikasi preseptor

Maksud dan tujuan kerjasama tersebut:
1. Untuk meningkatkan hubungan kerjasama yang saling mendukung dan menguntungkan bagi Angota kedua belah pihak.
2. Adanya kesepahaman dukungan dari kedua belah pihak dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada anggota kedua belah pihak
3. Menyelaraskan kegiatan diantara kedua organisasi sehingga bisa bersinergis dalam ranggka peningkatan kualitas apoteker di DKI Jakarta
Surat perjanjian kerjasama ditandatangani oleh ketua umum GPFI DKI Jakarta dan ketua umum IAI DKI Jakarta Drs. Muhammad Yamin M.Farm.,Apt serta disaksikan oleh direktur eksekutif GPFI Pusat Darojatun Sanusi dan pengurus IAI DKI Jakarta.

Di Sesi seminar, Roy Sparringga mengatakan Pharma 4.0 adalah
1. Pharma 4.0 revolves around a system of real-time monitoring, simulation and control of manufacturing processes (shifting away from focusing on production to a fixed specification).
2. The goal is to enable processes to self-adjust based on data from interconnected systems running throughout the operation.
3 The concept builds on the principles of quality by design (QbD) and process analytical technology (PAT).
4 It is difficult to figure out how to make a complex and futuristic combination of robotics, automation, embedded Internet-connected sensors and integrated enterprise software run manufacturing.
5 Pharma 4.0 will improve efficiency and eliminate the need for human/manual intervention, and facilitate higher levels of quality, an objective of particular importance in pharmaceutical manufacturing

Jonathan Sudharta dalam paparannya ada 10 ciri-ciri dasar generasi millenial :
1. Gampang bosan pada barang yang dibeli
2. ‘No Gadget No Life’
3. Hobi melakukan pembayaran non-cash
4. Suka dengan yang serba cepat dan instan
5. Memilih pengalaman daripada aset
6. Berbeda perilaku dalam grup satu dan yang lain
7. Jago multitasking
8. Kritis terhadap fenomena sosial
9. Dikit-dikit posting
10. ‘Sharing is cool’

Menurut Roy Lembong, dampak Disrupsi Bisnis Farmasi Indonesia antara lain, bisa dilakukan Strategi dan mencari peluang kalau paham:
1. Apa yang terjadi dan penyebabnya : disrupsi = tidak normal lagi. Terima kenyataan.
2. Paham perubahan dalam detail proses yang terjadi.
3. Dari proses tersebut, apa yang aspek yang bisa diubah.
4. Tidak bisa hanya salah satu : Pebisnis atau Apoteker, tapi harus menjadi keduanya. Pebisnis aspek kompetisi, apoteker aspek teknis- regulasi.

Irvandi Ferizal mengatakan dalam paparan seminar, "The Job Who Need Creativity, Imagination, Leadership, Analysis, Telling a Joke, Doing Science". Dalam era 4.0, menerima sebuah kenyataan dan menjadi relevan ada 4 hal yang harus dilakukan:
1. Nimble dan Agile, Quick and Responsive to our stakeholder
2. Digitally oriented, Digital mindset to get workdone
3. Extract Synergies, Collaborate with cross functions and geographies
4. Adaptable, Flexible to embrace ever changing environment

Era Industri 4.0, seluruh pelaku bisnis diharapkan dapat melakukan inovasi dari bisnis konvesional melangkah bisnis berorientasi digital, agar pelaku usaha tidak tergerus dengan keadaan yang sedang dijalani di era saat ini. Semua kembali dari dukungan seluruh stakeholder yang berkecimpung di bidang farmasi.