Bisnis pameran farmasi lesu di Indonesia

Bisnis pameran farmasi lesu di Indonesia

Komitmen lemah berujung pindah CPhI Bangkok 2020

Kunjungan rombongan delegasi Indonesia pertama kali CPhI SEA digelar di Bangkok Thailand, penuh cerita yang membuat kecewa delegasi Indonesia. Komitmen mengelar CPhI SEA 2020 yang direncanakan hanya tinggal rencana saja, CPhI SEA menetap di Bangkok berkat dukungan kuat pemerintah Thailand.

Acara ini setiap tahun akan beralih antara Indonesia dan Thailand untuk melayani para peserta yang sebelumnya tidak dapat berpartisipasi.
Mulai 2019 dan selanjutnya, CPhI South East Asia - yang diselenggarakan oleh UBM - akan berganti lokasi tahunannya antara dua ekonomi farmasi terbesar di kawasan ini, Indonesia dan Thailand.

CPhI Asia Tenggara memperkuat integrasi ASEAN dengan membuka edisi Thailand pada tahun 2019.
Pada 2019, CPhI South East Asia akan bertempat di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC) di Bangkok, Thailand (12-14 Maret) sebelum kembali ke Jakarta International Expo (JIExpo) di Indonesia pada tahun 2020 (4-6 Maret). Langkah strategis CPhI Asia Tenggara ke Thailand akan semakin memperkuat daya tarik acara di kawasan ini. Penyelenggara mengantisipasi pertumbuhan yang signifikan dalam pengunjung baru dari lokasi yang lebih beragam dengan tempat baru, melayani peserta yang sebelumnya tidak dapat berpartisipasi.

Kunjungan pertama acara ke Thailand datang pada waktu yang signifikan bagi negara tersebut, karena penjualan farmasi diperkirakan akan tumbuh sebesar 8,4% pada tahun 2019, dengan perusahaan multinasional semakin ingin bermitra dengan produsen kontrak lokal untuk mempercepat dan memperlancar akses pasar. Menurut ketua umum PMMC, Kendrariadi Suhanda." Pemerintah Thailand sangat mendukung acara pameran CPhI SEA tetap di Bangkok, karena bisa mendatangkan wisatawan untuk berkunjung ke Thailand sehingga dapat menaikan nama Thailand di mancanegara". Selama ini pemerintah Indonesia kurang mendukung adanya pameran internasional ini untuk bisa tetap berada di Indonesia. Dilihat dari sektor bisnis farmasi memang belum sepenuhnya memberikan banyak peluang di waktu dekat namun dalam jangka waktu sedang dan panjang memberikan manfaat bagi pelaku usaha dibidang farmasi untuk dapat informasi teknologi maupun bahan baku farmasi yang terbaru.

Hubungan bisnis antar Indonesia dan Thailand, terutama di industri farmasi sangat baik selama ini. Pertumbuhan bisnis farmasi di Thailand saat ini lebih baik dari pada Indonesia. Namun secara jumlah industri farmasinya lebih banyak Indonesia.

Selama periode perkiraan yang panjang, penjualan obat-obatan akan mengalami CAGR 10-tahun masing-masing sebesar 5,5% dan 6,3% dalam mata uang lokal dan dolar AS, mencapai THB 275,2 miliar (USD 8,4 miliar) pada tahun 2026. “Ini merupakan perkembangan alami untuk CPhI Asia Tenggara dan wilayah tersebut, membuka peluang yang lebih besar untuk bertemu dengan mitra baru dan memperluas penjualan farmasi. Secara kolektif, kedua negara ini menyumbang lebih dari 50% dari penjualan kawasan.
Penelitian kami menunjukkan ada peluang besar, khususnya, untuk layanan kontrak dan bahan-bahan, dan dengan bertukar lokasi setiap tahun kami akan meningkatkan kedalaman dan kualitas mitra regional yang tersedia.

Selain itu, negara ini akan mendapatkan keuntungan dari amandemen Undang-Undang Paten 2017 - yang memungkinkan aplikasi paten Thailand yang dipercepat untuk perusahaan-perusahaan dengan paten yang ada dari Australia, Cina, UE, Jepang, Korea Selatan, dan AS - selanjutnya memperkuat kepentingan internasional.
Para eksekutif akan datang dari berbagai industri dengan pertumbuhan tercepat di kawasan ini termasuk profesional bahan farmasi, ahli pengemasan, penyedia mesin dan manufaktur kontrak, serta perusahaan nutraceutical dan spesialis laboratorium - memfasilitasi lingkungan kolektif yang dirancang untuk merangsang tahap berikutnya dalam ekspansi farmasi ASEAN .