PMMC Menjadi Perekat Luar Biasa

PMMC Menjadi Perekat Luar Biasa

Berorganisasi memiliki nilai yang tidak bisa dilihat secara kasat mata saja. Berorganisasi tidak bisa diartikan hanya sebagai tempat berkumpul orang-orang sesama profesi, atau hanya untuk bertemu kangen dengan para kolega. Berorganisai juga bisa menjadi sarana untuk menyatukan kepentingan para anggotanya.

Melalui organiasai, para anggota juga bisa mengembangkan jaringan (networking) bisnis yang dimiliki, termasuk untuk mengatur kepentingan bersama para anggotanya. Inilah yang dirasakan para anggota di PMMC, organisasi yang mewadahi para insan industri farmasi dan industri pendukungnya.

Kehadiran PMMC menjadi perekat luar biasa para pelaku maupun profesional yang berkecimpung di industri farmasi dan industri pendukungnya. Di organisasi ini, mereka bisa menikmati banyak hal: mulai dari bicara tentang bahan baku obat, perkembangan industri farmasi dalam dan luar negeri, berbagi dengan sesama melalui kegiatan bakti sosial, hingga sekadar untuk temu kangen dengan sesama profesi. 

Kita sama-sama memaklumi, bahwa industri bahan baku obat dalam negeri hingga kini belum mampu bersaing dengan bahan baku impor akibat tingginya biaya produksi. Padahal, industri bahan baku obat dalam negeri diharapkan mampu berkontribusi sebesar 30% dari total target pangsa pasar industri farmasi Indonesia pada 2025 yang mencapai Rp 700 triliun.

Sekitar 90%-95% bahan baku obat saat ini masih diimpor. Keberadaan industri bahan baku obat dalam negeri diharapkan perlahan-lahan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Sayangnya, bahan baku obat produksi lokal kurang diminati karena harganya mahal.

Industri bahan baku obat dalam negeri tidak bisa bersaing dengan bahan baku dari Tiongkok atau India walaupun kualitas produk kita lebih baik, tetapi harganya mahal karena biaya produksi tinggi.

Farmasi dalam negeri sebenarnya bisa memproduksi, tetapi kita kesulitan menjualnya karena harga tidak bisa bersaing. Kapasitas produksi juga kecil, misalnya 100 ton, sedangkan Tiongkok dan India bisa mencapai ribuan ton.

Oleh karena itu, sejak dulu kita berharap pemerintah turun tangan untuk menurunkan biaya produksi atau memberikan insentif kepada produsen bahan baku obat lokal. Harus ada political will dari pemerintah. Misalnya, ekspor bahan baku obat bisa mendapatkan insentif atau impor intermediate untuk bahan baku obat harus lebih murah sehingga Indonesia bisa membuat produk obat dari hulu sampai hilir.

CPhl  South East Asia

Organisasi farmasi dalam negeri sebenarnya juga berusaha menarik minat investor asing untuk bekerja sama dengan perusahaan lokal membangun pabrik bahan baku obat. Salah satu caranya melalui penyelenggaraan pameran niaga CPhI (Convention on Pharmaceutical Ingredients) South East Asia yang diselenggarakan setiap tahun.

CPhl  South East Asia adalah event yang sangat terfokus pada industri farmasi serta membuka peluang mengembangkan jaringan profesional bagi para ahli pengembangan obat dan spesialis lain di dalam bisnis farmasi. Lebih dari 200 perusahaan dari Indonesia, China, Eropa, Amerika Serikat, Korea, India, Jepang dan lainnya. China dan India merupakan sumber utama bahan baku farmasi yang berkualitas, khususnya untuk bahan baku obat generik.

Pasar farmasi Indonesia adalah pasar terbesar di negara-negara ASEAN dengan pangsa pasar sekitar 53%. Pasar farmasi di Indonesia adalah sekitar 43 triliun rupiah pada tahun 2011 dan telah meningkat menjadi 10% sampai 15%. Peningkatan ini karena meningkatnya jumlah penduduk dan peningkatan ekonomi lokal yang mengakibatkan peningkatan volume konsumsi obat di negara ini.

Akses masyarakat terhadap obat-obatan adalah salah satu tanggung jawab pemerintah yang dalam hal ini terkait dengan ketersediaan bahan baku sebagai komponen utama produksi obat. Persediaan obat dan bahan baku obat berperan penting dalam proses produksi dan penyediaan obat-obatan yang menunjang keselamatan, kualitas dan terjamin efektivitasnya.

Peduli Sesama

Kita sama-sama memaklumi, sejak dunia didera pandemi Covid 19, hampir semua lini bisnis turun drastis. Tak terkecuali dengan industri farmasi, termasuk di dalamnya ketersediaan bahan baku obat. Banyak hal yang menjadi krusial dalam kaitan penyediaan bahan baku obat.

Di sinilah salah satu peran PMMC sebagai organisasi, menjadi jembatan untuk memperlancar ketersediana bahan baku. Melalui oragnisasi ini, persolan-peroalan, kesulitan, dan hambatan dibahas dan dicarikan solusi terbaiknya untuk ketersediaan bahan baku obat. Sudah bertahun-tahun, PMMC menjadi media yang efektif dan cukup membantu para pelaku industri farmasi dalam hal bahan baku.

Dalam perjalanannya, PMMC tak hanya berbicara bisnis semata. Organisasi ini juga menjadi eahana untuk mengasah kepdulian para insan farmasi untuk berbagi dengan sesama melalui bakti sosial. Kegiatan bakti sosial PPM tak hanya dilakukan di lingkaran Jakarta dan sekitarnya, tapi juga hingga ke berbagai daerah seperti Bengkulu, Kalimantan Selatan, dan beberapa kota di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Bantuan yang diberikan PMMC kepada masyarakat yang membutuhkan memang tak sebesar yang diharapkan. Namun setidaknya, organisasi telah menunjukkan sikap peduli kepada sesama. Semoga kegiatan kepedulian sosial PMMC ini tetap terselenggara seterusnya. (*)