Pembiayaan yang berkelanjutan untuk JKN menuju pelayanan kesehatan semesta di Indonesia

Pembiayaan yang berkelanjutan untuk JKN menuju pelayanan kesehatan semesta di Indonesia

Jakarta – Keluhan industri farmasi sampai saat ini belum terealisasi sepenuhnya dari program Jaminan Kesehatan Nasional.

Dana 10 triliun yang digelontorkan oleh Kementerian Keuangan ke BPJS Kesehatan belum sepenuhnya dibayarkan kepada industri farmasi.

CSIS, TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan) dan GPFI bekerjasama mengadakan seminar dan diskusi dengan tema "Pembiayaan yang Berkelanjutan untuk Jaminan Kesehatan Nasional Menuju Pelayanan Kesehatan Semesta di Indonesia" yang digelar di gedung Pakarti, acara tersebut dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. 17/01.
Dalam pidato pembukaan Jusuf Kalla, perbedaan Jaminan Kesehatan atau Asuransi Kesehatan di Indonesia berbeda dengan negara-negara yang jumlah penduduknya hanya sebanyak Yogjakarta tentu tidak mudah. Jusuf Kalla mengatakan, " Walaupun tentu kita tahu asuransi kesehatan di Belanda dan Yunani juga mempunyai masalah, di Belanda malah hampir dibangkrutkan oleh para ningrat asuransi kesehatan mereka, maka kemudian kita menyusun UU yang kemudian disebut UU no 40 tahun 2014 tentang UU Kesehatan".
"Butuh waktu memberikan pelajaran kepada masyarakat, jaman dulu kalau tidak disuntik tidak merasa ke dokter. Kalau sekarang tidak seperti itu, tapi sekarang berobat dengan antrian resep yang panjang", tutur Jusuf Kalla.
Pidato penutupannya Jusuf Kalla mengatakan," Dibanyak tempat, dokter yang mengikuti seminar dibayari oleh pabrik obat, bagus juga sistem tersebut".
Panel diskusi pertama membahas mengenai "Tinjauan tentang Pelayanan Kesehatan Semesta di Indonesia" dan Prof. Hasbullah Thabrany, Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia sebagai moderator. Beberapa panelis antara lain: 1. dr. Rina Agustina, M.Sc., Ph.D., Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia “Jaminan Kesehatan Nasional di Indonesia: Konsep, Kemajuan, dan Tantangan”, 2. Dr. Pandu Harimurti, MPPM, Ahli Kesehatan, World Bank, Jakarta “Tinjauan Pembiayaan Sistem Kesehatan di Indonesia”, 3. dr. Donald Pardede, MPPM, Staf Khusus Menteri Kesehatan RI, Bidang Pembangunan dan Pembiayaan Kesehatan “Persiapan dan Inovasi dalam Sistem Kesehatan Indonesia Menuju Pelayanan Kesehatan Semesta”, 4. Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH, Menteri Kesehatan RI (2012-2014) dan Board Member of the Institute of Health Metrics and Evaluation (IHME), University of Washington “Pemanfaatan Data Beban Penyakit (Burden of Disease) untuk Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi Pelayanan Kesehatan di Indonesia”
Sambutan kunci acara, membahas mengenai "Pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional menuju Pelayanan Kesehatan Semesta. Pembicara Prof. Dr. Mardiasmo, MBA, Akt., Wakil Menteri Keuangan RI dan moderator Prof. Dr. Mari Pangestu, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia dan Dewan Pembina, Yayasan CSIS.
Panel diskusi kedua, membahas mengenai, "Menghadapi Tantangan untuk Maju Bersama ke Depan". Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH, Menteri Kesehatan RI (2012-2014) dan Dewan Pembina, Yayasan CSIS sebagai moderator. Dan panelis terdiri dari 1. Prof. Dr. dr. Fachmi Idris, M. Kes, Direktur Utama, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan “Tantangan dan Kesiapan untuk Keberlanjutan BPJS Kesehatan dalam Pelayanan Kesehatan Semesta”. 2. Prof. Suahasil Nazara, PhD, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan RI (*) “Pembiayaan Berkelanjutan untuk Jaminan Sosial Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan Semesta”. 3. Dr. Prastuti Soewondo, Kepala Kelompok Kerja Kebijakan Jaminan Kesehatan, TNP2K “Tantangan dan Alternatif untuk Meningkatkan Kualitas dan Pemerataan Pelayanan Kesehatan Semesta”. 4. Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada “Pembiayaan untuk JKN yang Berkelanjutan dan Berkeadilan: Beberapa Opsi Berbasis Bukti”
Terakhir Panel ketiga, membahas "Pengelolaan Obat dan Alat Kesehatan yang Bermutu dan Terjangkau dalam Penyelenggaraan JKN
Moderator Ir. Ferry A. Soetikno, Wakil Ketua, GPFI dan Presiden Direktur, PT Dexa Medica sebagai moderator. Panelis terakhir antarlain, 1. Roy Lembong, Ketua Divisi Industri, GPFI “Tantangan dan Rekomendasi untuk Menjamin Ketersediaan Farmasi yang Bermutu dan Terjangkau dalam pelayanan JKN/ BPJS”. 2. Hery Sutanto, Ketua Divisi Distribusi, GPFI “Tantangan dan Saran Kelancaran untuk Distribusi Obat yang Bermutu dan Terjangkau dalam Penyelenggaraan JKN/ BPJS”, 3. Jorge Wagner, President Director, Novartis Indonesia,“Challenges and Opportunities for MNC’s Supplying JKN”, 4. Dra. Engko Sosialine Magdalene, Apt, M. Biomed, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI “Pendekatan Inovatif untuk Menjamin Ketersediaan dan Mutu Obat-Obatan serta Alat Kesehatan dalam Pelayanan Kesehatan Semesta (UHC)”, 5. Ir. Penny Lukito, MCP, PhD, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) “Efisiensi Regulasi dan Pengawasan Mutu Sediaan Farmasi untuk Pelayanan Kesehatan Semesta (UHC)”
Kesimpulan, Rekomendasi dan Tindak Lanjut ke Depan, dipaparkan oleh Dr. Bambang Widianto, Sekretaris Eksekutif, TNP2K dan Dr. Tikki Pang, Former Director of Research Policy, World Health Organization (WHO) and Visiting Professor, Lee Kuan Yew School of Public Policy, National University of Singapore (NUS).
Dari semua panelis memberikan gambaran mengenai Jaminan Kesehatan Nasional secara detil dari berbagai perspektif masing masing stackholder.